Pemerintah Provinsi Banten mengambil langkah strategis yang masif dengan mengalokasikan anggaran khusus guna mempercepat penurunan angka stunting di empat kabupaten prioritas yang menjadi pusat perhatian. Kebijakan ini dihadirkan sebagai komitmen nyata pemerintah daerah dalam mengentaskan persoalan gizi buruk secara terpadu, sekaligus mempersiapkan generasi masa depan yang sehat, kuat, dan berkualitas demi menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
1. Fokus Alokasi Anggaran untuk Empat Kabupaten Prioritas
Dana khusus yang disiapkan oleh Pemprov Banten difokuskan secara presisi ke empat wilayah kabupaten di Provinsi Banten yang dinilai masih memiliki prevalensi stunting cukup tinggi. Melalui intervensi fiskal yang terarah ini, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap rupiah dari anggaran daerah benar-benar terserap secara maksimal untuk memperbaiki fasilitas kesehatan, distribusi suplemen gizi, serta pemenuhan kebutuhan pangan sehat di tingkat akar rumput.
2. Pelaksanaan Pra Musrenbang dan Perencanaan Terintegrasi
Langkah awal dalam eksekusi anggaran ini dimulai melalui forum Pra Musrenbang Stunting yang melibatkan kolaborasi erat antara Bappeda, Dinas Kesehatan, serta instansi terkait. Perencanaan disusun secara kolaboratif dan berbasis data akurat untuk memastikan program penanganan gizi ini tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi dengan baik hingga ke tingkat desa dan kelurahan.
3. Penerapan 8 Aksi Konvergensi Penanganan Stunting
Untuk mengukur efektivitas penggunaan anggaran, Pemprov Banten memberlakukan evaluasi ketat melalui mekanisme Delapan Aksi Konvergensi di seluruh daerah sasaran. Sistem ini berfungsi untuk memantau kinerja pemerintah kabupaten dalam mengeksekusi program di lapangan, memastikan ketepatan sasaran penerima manfaat, serta mengevaluasi hambatan secara berkala agar target penurunan angka stunting dapat tercapai sesuai target.
4. Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting dan Peran Masyarakat
Selain mengandalkan dana pemerintah, alokasi anggaran khusus ini juga dioptimalkan untuk menggerakkan partisipasi publik melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Program ini melibatkan unsur pentahelix, mulai dari ASN, dunia usaha lewat dana CSR, hingga masyarakat mampu, untuk bergotong royong mendampingi keluarga berisiko stunting, ibu hamil, serta balita secara langsung.
5. Pendekatan Intervensi Spesifik dan Sensitif Berbasis Data
Penyaluran bantuan dan fasilitas kesehatan dalam program percepatan ini menggunakan pendekatan intervensi spesifik dan sensitif yang berbasis nama serta alamat penerima (by name by address). Dengan metode yang transparan dan akurat ini, distribusi Makanan Tambahan (PMT), edukasi pola asuh, serta perbaikan sanitasi lingkungan dapat diterima langsung oleh keluarga yang paling membutuhkan tanpa salah sasaran.
Secara keseluruhan, alokasi anggaran khusus yang digelontorkan oleh Pemprov Banten untuk empat kabupaten ini membuktikan keseriusan pemerintah dalam menuntaskan permasalahan stunting secara komprehensif. Melalui perpaduan anggaran yang tepat sasaran, perencanaan matang, serta kolaborasi lintas sektor, Banten optimis mampu menekan angka stunting secara signifikan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang merata.

