Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 dapat mencapai minimal 5,5 persen.

Pernyataan ini disampaikan usai rapat kabinet di Istana Kepresidenan Jakarta, dengan mempertimbangkan ketahanan ekonomi domestik di tengah tekanan global.

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang

Airlangga menegaskan bahwa kekuatan utama ekonomi Indonesia masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga.

Kontribusinya yang mencapai sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadikan sektor ini sebagai penyangga utama di tengah ketidakpastian global.

Risiko Global Tetap Diwaspadai

Meski optimistis, pemerintah tetap mewaspadai dampak konflik geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi serta mengganggu rantai pasok global yang berdampak pada stabilitas ekonomi nasional.

Dampak Harga Energi terhadap APBN

Airlangga menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga bahan bakar global memiliki implikasi langsung terhadap anggaran negara.

Kenaikan USD1 per barel dapat berdampak lebih dari Rp6 triliun terhadap APBN, meskipun efek bersihnya masih dinilai dapat dikelola.

Kinerja Fiskal dan Pajak Menguat

Dari sisi fiskal, kinerja anggaran menunjukkan tren positif.

Penerimaan pajak tercatat meningkat 14,3 persen secara tahunan, mencapai sekitar Rp462,7 triliun pada kuartal pertama.

Sektor Manufaktur Tetap Ekspansif

Sektor manufaktur juga tetap berada dalam fase ekspansi.

Hal ini menjadi indikator penting bahwa aktivitas industri domestik masih berjalan kuat dan mendukung pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Ketahanan Pangan Tetap Terjaga

Di sektor pangan, pemerintah memastikan kondisi tetap stabil.

Produksi beras mencapai 34,7 juta ton pada tahun sebelumnya, dengan cadangan nasional di Perum Bulog sekitar 4,6 juta ton.

Strategi B50 Dorong Efisiensi

Pemerintah juga menyiapkan kebijakan tambahan untuk menjaga momentum pertumbuhan, salah satunya implementasi program biodiesel B50.

Kebijakan ini diperkirakan mampu menghemat anggaran hingga Rp48 triliun sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor energi.

Disiplin Fiskal Tetap Dijaga

Dalam jangka menengah, pemerintah berkomitmen menjaga rasio utang terhadap PDB di kisaran 40 persen.

Sementara defisit anggaran ditargetkan tetap berada di bawah 3 persen, sesuai dengan aturan fiskal yang berlaku.

Kesimpulan

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di awal 2026 menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah tekanan global.

Dengan dukungan konsumsi domestik, stabilitas fiskal, serta kebijakan strategis, pemerintah optimistis mampu menjaga momentum pertumbuhan sepanjang tahun.

Baca Juga : Renovasi Rp25 M Rumdin Kaltim Dijelaskan Gubernur

Cek Juga Artikel Dari Platform : bengkelpintar